🏒 Silsilah Kh Abdullah Faqih Langitan

Beliaumemiliki silsilah yang mulia dan agung, yakni sampai ke Sunan Giri. Kalau diruntut, maka beliau adalah keturunan ke-12 dari kanjeng Sunan Giri Syeikh Maulana Ishaq. Dengan runtutan sebagai berikut: 1. Syeih Ainul Yaqin (Sunan Giri) 2. Sunan Dalem 3. Sunan Prapen 4. Kawis Goa 5. Pangeran Giri 6. Gusti Mukmin 7. Amirus Sholih 8. Abdul Hamid 9. Iadidampingi pamannya, KH Ahmad Marzuki Zahid. Ponpes Langitan sendiri didirikan 1852 oleh KH Muhammad Nur asal Tayuban, Rembang, Jawa Tengah. Saat dipimpin KH Faqih ponpes lebih terbuka, termasuk mengembangkan ilmu komputer, tetapi tetap mempertahankan salafiyah. Saat ini di Ponpes Langitan ada sekitar 3.000 santri. AbdullahFaqih. Syaikhina lahir dari pasangan bahagia Kiai Rofi'I dan Nyai Khodijah. Bersaudarakan tiga, yaitu: Abdullah Faqih, Khozin, dan Hamim. Namun semenjak kecil, kepengasuhan berada di bawah KH Abdul Hadi Zahid, Pengasuh Pondok Pesantren Langitan generasi keempat. Ini terjadi lantaran Ayahanda beliau, Kiai Rofi'I (adik KH Abdul Hadi AbdullahFaqih dan Hj. Tswaibah. Dilahirkan pada tanggal 31 Desember 1947 Masehi atau lebih tepatnya tanggal 18 Shafar 1367 Hijriyah. Yai Buhin merupakan anak pertama dari lima bersaudara. Beliau tinggal di sebuah desa kecil, yaitu Suci, Manyar, Gresik. Sejak kecil, orang tuanya selalu mengajarkan kesederhanaan dalam hidup. KHAnwar Zahid mulai menuntut ilmu agama pertama kali pada akhir tahun 1998 di pondok pesantren Langitan Tuban asuhan KH 'Abdullah Faqih. Dimasa mudanya ia habiskan untuk mengaji ilmu agama baik itu ilmu Fiqih, tasawuf maupun ilmu Al-Qur'an. Innalillahi wa inna ilayhi raji'un (إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ)Telah berpulang ke Rahmatulloh..KH.Abdullah Faqih, pengasuh PP Langitan Tuban pada hari Rabu, 29 Pebruari sekitar pukul 18.30. Segenap Pengurus Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama, turut berduka cita yang Sedalamnya atas wafatnya beliu. AbdullahFaqih (lahir di Widang, Tuban, 2 Mei 1932 - meninggal di Widang, Tuban, 29 Februari 2012 pada umur 79 tahun) adalah seorang kiai atau Ulama yang berpengaruh serta pengasuh Pondok Pesantren Langitan. KH. KHAbdullah Faqih, Langitan, Tuban KH Maimun Zubair. KH Alawi Muhammad Pon Pes Attaroqqi Karongan Madura Yang setiap Tahun Mengadakan Haul Untuk Beliau Syekh kh Saadih al-batawi Deden gesit alpino Keturunan Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki. Selepas kewafatan KiaiAbdullah Faqih, adalah salah satu tokoh sentral dari kalangan pesantren yang ikut menggempur Belanda pada serangan 10 November 1945. Bukan kiai sembarangan, Abdullah Faqih yang berasal dari Pondok Pesantren Langitan, Tuban, ini dikenal punya kekuatan magis yang luar biasa. AbdullahFaqih) (6. Musfi'ah (7. 'Aisyah (8. Musta'inah (meninggal usia muda) (9. KH. Ahmad Marzuqi (10. Hindun (11. Maryam (meninggal ketika masih kecil) Pendidikan tentang dasar-dasar agama telah dirasakan oleh putra ke sembilan KH. Tag makam KH. Abdullah Faqih. Menjelang Liburan, Para Santri Ziarah Ke Makam Masyayikh. by admin | May 29, 2015 | Langituna | 0 | Menjelang liburan nishfu Sya'ban, para santri putra Pondok Pesantren Langitan bersama-sama Read More. Pembangunan Makam Syaikhina Menjelang Haul Ke 42. MasbuhinFaqih lahir pada tanggal 31 Desember 1947 Masehi atau 18 Shafar 1367 Hijriyah di desa Suci kec. Manyar Kab. Gresik. Beliau merupakan putra pertama dari lima bersaudara, dari pasangan KH. Abdullah Faqihdan Hj. Tswaibah. Nasab Beliau memiliki silsilah yang mulya dan agung, yakni sampai ke Sunan Giri. fp0HGVn. Silsilah Arab., salsala, make a chain’. The chain of transmission in Sūfī Islam from the initial blessing baraka of God, running down in succession to the present shaykh. Most silsilahs are traced back to Muḥammad, one the Tijāniyya claiming to be derived from a direct vision of Muḥammad to the founder. The Khāḍiriyya claim to be founded directly by Khiḍr. It is an initial obligation on joining an order to learn the silsilah in order to understand how the baraka has been transmitted. Oleh Khomsatul Mahfudzoh KH. Abdullah Faqih Langitan lahir pada tanggal 2 Mei 1932 di desa Mandungan kecamatan Widang kabupaten Tuban, Jawa Timur. Beliau terlahir dari pasangan KH. Rofi’i Zahid dan Ibu Nyai Hj. Khadijah. Pendidikannya dimulai dari berguru ke Mbah Abdur Rohman Lasem, Rembang, Jawa Tengah, lalu dilanjutkan merantau ke Mekkah, Arab Saudi. Di sana beliau belajar pada Sayyid Alwi bin Abbas Al Maliki, setelah itu mengabdi di Pondok Pesantren yang didirikan oleh KH. Muhammad Nur yaitu PP. Langitan sampai wafat. Kiai Faqih mempunyai istri yang bernama Ibu Nyai Hj. Hunainah Faqih yang sampai sekarang masih sehat. Pasangan ini dikaruniai sembilan putra dan putri yaitu Ubaidillah Faqih Mujab Faghni Faqih Alm Muhammad Faqih Hanifah Faqih Amiroh Faqih Faiqoh Faqih Abdulloh Habib Faqih Abdurrahman Faqih Ma’sum Faqih Syaikhina KH. Abdullah Faqih wafat pada tanggal 29 Februari 2012 di ndalem/kediaman beliau, Widang, Tuban, Jawa Timur pada umur 82 Tahun. Bagaikan disambar petir di tengah siang bolong, kabar duka itu membuat semua orang, baik dari keluarga beliau sendiri, kalangan ulama, santri dan juga orang-orang kecil yang mengaguminya kaget dan tidak percaya. Tapi sebelum beliau wafat, beliau sudah sakit selama beberapa bulan. Mungkin juga karena usianya yang sudah sepuh tua. Semua orang berbondong-bondong untuk bertakziyah, dari kalangan apapun, kota/ daerah manapun itu, dan sesibuk apapun mereka yang mengaguminya pasti disempatkan untuk bertakziyah ke kediaman beliau. Kiai Faqih adalah generasi ke empat pengasuh Pondok Pesantren Langitan yang menggantikan KH. Abdul Hadi Zahid pada Tahun 1971. KH. Abdullah Faqih atau yang sering dipanggil Kiai Faqih merupakan ulama yang sangat karismatik, selalu mengedepankan kasih sayang walaupun dengan anak kecil. Begitu juga dengan semua orang yang dari kalangan apapun, beliau sangatlah rama. Ketika bertemu dengan santrinya pun selalu tersenyum dan tiada lelah untuk selalu mendo’akan para santrinya. Kiai Faqih selalu menjadi suri tauladan bagi siapapun. Banyak dari kalangan ulama tanah air maupun luar negeri pada mengaguminya. Seperti KH. Abdurahman Wahid gus dur, Habib Umar bin Hafidz dan kiyai besar lainnya. Ketika Kiai Faqih sakit pun beliau dijenguk oleh bapak presiden ke-6 yaitu bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Ada suatu kisah tentang Kiai Faqih pada bulan Ramadlhan. Waktu itu beliau pernah tidak sahur dan tidak pula berbuka puasa. Dalam berpergian, ketika semua orang mencari warung/rumah makan untuk berbuka puasa, beliau hanya bisa masuk dalam masjid dan meminum air di dalam kamar mandi dengan penuh dahaga dan kepuasan. Katanya “Tirakat dengan terpaksa ataupun dengan disengaja Insya Allah pasti akan mendapatkan hasilnya”. Mengenai pendidikannya mulai ditempuh di Lasem, Rembang, Jawa Tengah, sekitar 2 tahun setengah, dan dilanjutkan di Senori Tuban Jawa Timur kira-kira hanya 6 bulan. Kiai Faqih belajar dan mengabdi di pondok pesartren milik kiai-kiai besar hanya sekitar 1 bulan. Jadi belajarnya di pondok pesantren itu tidaklah lama, paling kurang lebih hanya 4 tahun. Meskipun begitu beliau selalu minta diajari oleh kiai-kiai sepuh yang sangat alim di zaman dulu. Seperti K. Fathurrohman, K. Baidlhowi, K. Ma’sum, K. Maftuhin, K. Mansyur dan kiai-kiai sepuh di Nusantara lainnya. Kiai Faqih selalu berpindah-pindah tempat ketika mengaji, bahkan beliau pernah satu malam menginap di ndalem/kediaman K. Fathurrohman, besok malamnya lagi menginap dindalem/kediaman K. Ma’sum. Beliau lakukan itu supaya mendapat wawasan/pelajaran banyak yang berbeda-beda dari para kiai sepuh tempo dulu. Ada banyak dawuh-dawuh beliau yang saya ingat, kalau saya sebutkan semua pasti tak akan muat dalam lembaran ini. Salah satu dawuh Mbah Faqih yaituEmpat Resep Keselamatan “Resep orang yang ingin selamat, itu ada empat 1 Kalo kamu di sakiti orang lain, jangan pernah membalas. Kamu harus mau memaafkannya 2 Jangan pernah mau untuk menyakiti orang lain 3 Tidak berharap sesuatu dari orang lain 4 Suka memberi kepada sesama.” Nasab Bukanlah yang Utama “Yang membuat tinggi derajat itu bukalanlah nasab/keturunan, tetapi akhlak sopan santun dan ilmu.” Tanda-tanda Hati yang Keras “Tanda hati yang keras itu adalah, kalo diajak melakukan kebaikan hatinya merasa berat, tapi kalo sudah berbuat maksiat tidak mempunyai keinginan untuk bertaubat.” Pertama Mengaji, Selanjutnya Terserah Anda “Kalo putra/putri kalian sudah selesai dipondokkan, selanjutnya kalian sekolahkan dia menjadi Sarjana, Politis dan Pejabat itu terserah kalian. Karena anak yang sudah punya dasaran Ilmu Agama, Insya Allah dimanapun dia pasti akan selamat.”Adab Tetap Nomer Satu “Orang yang tidak punya Ilmu, tapi punya adab akhlak itu lebih mulia. Daripada orang yang punya Ilmu tapi tidak mempunyai adab dan akhlak sopan santun.” Empat Hal Keberuntungan “Setengah dari orang beruntung itu 1 Orang yang mempunyai istri sholihah, 2 Mempunyai anak yang berbakti 3 Mempunyai teman yang sholeh-sholeh dan 4 Rezekinya ada didaerahnya sendiri.” Itulah sebagian dari dawuh-dawuh beliau, singkat tapi sangat memberi pelajaran yang berharga. Beliau memberikan dawuh-dawuh/sebuah nasihat yang sangat sederhana tapi mudah dimengerti oleh orang lain, di dalam pesantren maupun di luar pesantren. Kepada santri maupun kepada orang lain yang berada diluar pesantren. Bahkan KH. Abdurrahman Wahid atau dikenal dengan Gus Dur presiden yang ke-4 menyempatkan waktu berbincang berdua kepada syaikhina Kiai Faqih di kamar pribadinya. Gus Dur sangat mencintai Kiai Faqih. Sebelum wafat beliau juga sempat disambangi/dijenguk guru besar Yaman yaitu Habib Umar bin Hafidz untuk bersilaturahmi. Masih banyak lagi ulama-ulama besar Nusantara maupun luar Nusantara yang bersilaturahmi kepada beliau. Demikian sedikit biografi Kiai Faqih ketika masih hidup. Selama nyantri di sana yang saya ketahui dari beliau yaitu sikap harmonisnya kepada siapa pun. Jika ada salah kata atau apapun itu saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. “Kualitas ke Islaman seseorang tidak terletak pada pakaian yang dikenakan, tetapi pada amal yang dipraaktikkan”. Wallahu A’lam Bisshowab KH. Abdullah Faqih Bersama KH. Maimun Zubair KH. Abdullah Faqih adalah ulama yang kharismatik sekaligus pengasuh generasi keenam Pon. Pes. Langitan. Beliau merupakan kiai yang sederhana dengan sifat tawadu yang luar biasa. Selain itu beliau juga mempunyai kiprah yang berpengaruh bagi NU, hal ini terbukti karena seringnya beliau dijadikan rujukan oleh kaum nahdliyin. Bahkan KH. Abdullah Faqih atau yang biasa disebut Mbah Yai Faqih itu menjadi sumber rujukan Bapak Presiden keempat, yaitu KH. Abdurrahman Wahid mengenai permasalahan negara. Oleh karena itu, di bawah ini akan diungkapkan secara singkat biografi beliau. Masa Kecil KH. Abdullah Faqih dilahirkan di Mandungan, Widang, Tuban, Jawa Timur. Beliau merupakan anak pertama dari tiga bersaudara, dari pasangan Kiai Rofi’i dan Nyai Khodijah. Mengenai tanggal kelahiran beliau, masih terdapat perbedaan pendapat. Namun pendapat yang dipilih sebagaimana tertulis dalam KTP beliau. Yaitu tepat tanggal 2 Mei 1932 M. Atau 1 Muharram 1351 H. Pada hari Sabtu. Pada saat umur 7 tahun, beliau ditinggal sang ayahanda. Semenjak Ayahanda wafat, ibu beliau dinikahi KH. Abdul Hadi Zahid pengasuh Ponpes. Langitan, generasi k-4. Dan semenjak itulah, kehidupan beliau diarahkan oleh KH. Abdul Hadi, dari mondok hingga berkeluarga. Rihlah Ilmiah Setelah belajar pada KH. Abdul Hadi zahid. KH. Abdullah Faqih muda meneruskan rihlah ilmiahnya ke beberapa pesantren. Salah satunya adalah pondok pesantren asuhan KH. Ma’shum yang berada di Lasem. Pondok pesantren asuhan KH. Abu Fadhol Senori dan Pondok pesantren KH. Dalhar Watucongol, serta beberapa pesantren lain. Perjalanan rihlah ilmiah beliau itu ditempuh dengan waktu yang relatif singkat, yaitu hanya empat tahun, sebagaimana pengakuan beliau sendiri pada suatu kesempatan. “Di Lasem –mondok dua setengah tahun. Di Senori enam bulan. Setelah itu satu bulan pindah ke pesantren lain. Total semuanya tidak lebih dari empat tahun” Kata beliau. Berkeluarga dan Mengasuh Pesantren Selama mondok di Lasem, KH. Ma’shum memiliki perhatian lebih kepada KH. Abdullah Faqih Muda. Puncaknya, beliau dinikahkan dengan Nyai Hunainah binti Kiai Bisri, putri persusuan radha sekaligus keponakan KH. Maksum. Hasil dari pernikahan ini, beliau dikarunia 12 orang anak. Setelah kembali ke Langitan dengan memboyong keluarga, beliau langsung ikut mengabdi ke pesantren. Pada saat KH. Abdul Hadi Zahid wafat karena usia lanjut, beliau ditetapkan sebagai pengasuh pesantren didampingi KH. Ahmad Marzuqi yang juga merupakan pamannya. Pada saat mengasuh pesantren, beliau dikenal sebagai kiai yang disiplin. Rajin terus ke kamar-kamar untuk mengajak belajar, musyawarah, dan shalat malam. Begitu pula dalam ketertiban suasana, beliau cinta kebersihan sehingga kondisi pondok yang tidak bersih akan mendapat perhatian serius dari Beliau. Selain itu, Pada masa mengasuh pesantren, banyak ide dan gagasan beliau yang disalurkan dan masih ada hingga saat ini. Sebagaimana yang terjadi dalam model kepengurusan pondok, dimana beliau merumuskan empat pilar kepengurusan pesantren, yaitu Majelis Idarah, Majelis An Nuwwab, Majelis Tahkim, dan Majelis Amn. Wafat Tepat pada hari Rabu, 29 Februari 2012 M. Usai shalat maghrib sekitar pukul WIB, beliau dipanggil ke hadiratnya. Bumi pun berduka karena ditinggal ulama yang penuh kharisma. Kabar meninggalnya beliau langsung tersebar melalui pesan antar mulut, sms, dan dunia maya. Beliau dimakamkan pada pukul Wib. Hari Kamis, 1 Maret 2012 M. Diantara pusara para pendahulu pengasuh pesantren Langitan.

silsilah kh abdullah faqih langitan